Tampilkan postingan dengan label Kebidanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebidanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juni 2011

RUPTURA PERINEUM (1)

Ruptura perineum adalah robeknya perineum pada saat janin lahir. Berbeda dengan episiotomi, robekan ini sifatnya traumatik karena perineum tidak kuat menahan regangan pada saat janin lewat

Sebab robeknya perineum bisa disebabkan dari pihak ibu dan Janin.
Ruptura perineum sebab dari ibu
1). Karena partus presipitatus yang tidak dikendalikan dan tidak ditolong, his terlampau kuat atau disebut hypertonic uterine contraction, menyebabkan persalinan selesai dalam waktu sangat singkat. Partus sudah selesai kurang dari 3 jam, sifat his normal, tonus otot diluar his juga bisa. Kelainannya terdapat pada kekuatan his, tahanan yang rendah pada bagian lunak jalan lahir atau pada keadaan yang sangat jarang dijumpai oleh adanya proses persalinan yang sangat kuat .
2) Pasien tidak mampu berhenti meneran
Dengan tercapainya dilatasi serviks yang maksimal, sebagian besar wanita dalam proses persalinan tidak bisa menahan keinginan untuk meneran setiap kali timbul kontraksi uterus, menutup glotis dan mengontraksikan otot abdomen berkali-kali dengan sepenuh tenaga untuk menimbulkan peningkatan intra abdomen yang besar selama berlangsungnya kontraksi uterus. Gabungan tenaga yang ditimbulkan akan mendorong janin turun ke dalam vagina dan pada kasus persalinan spontan melewati introitus vagina.
3) Dorongan fundus terlalu kuat sehingga janin keluar terlalu cepat
Biasanya terjadi akibat penolong persalinan yang tidak sabar. Ingin kelahiran janin secara cepat sehingga melakukan dorongan pada fundus uteri dengan mendorong abdomen. Tindakan ini akan menyebabkan ibu merasa nyeri, terlebih lagi berbahaya bagi janin dan kaitanya dengan ruptur uteri .
4) Kelainan vulva
Atresia vulva parsial sebagai akibat dari perlekatan atau jaringan parut setelah pasien mengalami cidera atau pembedahan. Tahanan yang ditimbulkan biasanya dapat diatasi oleh tekanan terus menerus dari kepala janin dengan akibat yang umumnya berupa ruptura perineum yang dalam. Introitus vulvovaginalis kaku dan tidak elastis maka distosia dan laserasi yang luas kemungkinan akan terjadi.
5) Arkus pubis yang terlalu sempit
Sempitnya arkus pubis menyebabkan oksiput tidak bisa rnuncul langsung dibawah simpisis pubis tetapi akan terdorong lebih jauh kebawah pada ramus iskiopubikum. Kesempitan pintu bawah panggul apabila distosia tuberum 8 cm atau lebih kecil, kesempitan pintu bawah panggul ditemukan pada 0,9% dari 1429 primigravida aterm.
6) Episiotomi
Carroli dan Belizan (2000) mengevaluasi episiotomi rutin di bandingkan episiotomi restriktif. Pada kelompok episiotomi restriktif terdapat angka trauma perineum kebutuhan untuk diperbaiki dan kompikasi penyembuhan yang rendah (28%). Sebaiknya pada episiotomi rutin terdapat angka trauma perineum yang tinggi (73%). Dengan temuan ini episiotomi tidak melindungi perineum tetapi menyebabkan inkontinensia sfingter anus dengan cara meningkatkan resiko robekan derajat tiga dan empat. Terbukti bahwa kebijakan untuk episiotomi rutin tidak dapat didukung.

Ruptura perineum sebab dari janin
1) Janin besar
Menurut WHO janin besar adalah janin dengan berat lahir lebih dari 4000 gram. Hasil penelitian Wullur, et all. (2004) di RSUP Manado kasus makrosomia sebesar 1,88%, menyebabkan robekan perineum tingkat satu dan dua sebesar 31,13%.
2) Posisi kepala abnormal
Posisi oksipitalis posterior persisten dalam keadaan fieksi, bagian kepala yang pertama mencapai dasar panggul adalah oksiput (oksipito posterior). Oksiput akan memutar ke depan karena dasar panggul dengan muskulus levator ani membentuk ruang yang lebih luas sehingga memberikan tempat yang lebih sesuai bagi oksiput. Dengan demikian keberadaan ubun-ubun kecil dibelakang masih dianggap sebagai variasi persalinan biasa. Pada kurang dari 10% keadaan kadang-kadang ubun-ubun tidak berputar kedepan, sehingga tetap dibelakang keadaan ini dinamakan posisi oksipito anterior persisten. Hal ini disebabkan karena usaha penyesuaian kepala terhadap bentuk dari ukuran panggul, misalnya diameter antero posterior panggul lebih panjang dari diameter transverse seperti pada panggul android atau otot-otot dasar panggul yang sudah melemah pada multipara atau kepala janin yang kecil.
3) Presentasi bokong
Kepala harus melewati panggul dalam waktu yang lebih singkat daripada persalinan presentasi kepala sehingga tidak ada waktu bagi kepala untuk menyesuaikan dengan besar dan bentuk panggul. Insiden presentasi bokong sebesar 3 - 5% pada bayi dengan berat badan lebih dari 2500 gram. 65% frank breech, 27% footling breeches, 8% complete breech.
4) Ekstraksi vakum/forceps yang sukar
Persalinan pervaginam dengan menggunakan alat ada hubungannya dengan laserasi perineal dengan OR = 3,04 CI = 2,42 - 3,84.
5) Distosia bahu
Kepala telah lahir tapi bahu tidak dapat dilahirkan dengan cara-cara biasa. Insidensi umumnya kurang dari 0,15 – 0,2%. Pada bayi dengan berat lahir lebih dari 4000 gram insidensinya 1,6% (Oxorn, 2003).
6) Anomali konginetal seperti hidrosephalus.
Hidrosepalus adalah penimbunan cairan serebrospinalis dalam ventrikel otak, sehingga kepala menjadi besar serta menjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-ubun. Cairan yang tertimbun dalam ventrikel biasanya antara 500-1500 ml. Kadang-kadang mencapai 5 liter karena kepala janin terlalu besar dan menyebabkan disproporsi sepalo pelvic. Terjadi sekitar 12% dari semua malformasi berat yang ditemukan pada kelahiran.

Klasifikasi ruptura perineum (Oxorn, 2003).
  • Ruptur perineum derajat I meliputi mukosa vagina, fourchette dan kulit perineum tepat dibawahnya.
  • Ruptur perineum derajat II merupakan luka robekan yang lebih dalam. Luka ini terutama mengenai garis tengah dan melebar sampai korpus perineum. Muskulus perineum transverses sering turut robek dan robekan dapat turun tapi tidak mencapai spingter ani. Biasanya robekan meluas keatas disepaniang mukosa vagina dan jaringan submukosa. Keadaan ini menimbulkan luka laserasi yang berbentuk segitiga ganda dengan dasar pada fourchette, salah satu apek pada vagina dan apek lainnya didekat rektum.
  • Ruptur perineum derajat III meluas sampai korpus perineum, muskulus transversus perineum dan spingter ani rusak.
  • Ruptur perineum derajat IV spingter ani terpotong dan laserasi meluas hingga dinding anterior rektum.
Ruptur perineum derajat I dan II disebut ruptur perineum inkomplit, sedang ruptur perineum derajat III dan IV disebut ruptur perineum komplit atau totalis.
 
Tehnik mencegah laserai perineum
Up Right Dan Squatting (posisi jongkok)
Posisi ini sudah dikenal sebagai posisi bersalin yang alami. Beberapa suku di Papua dan daerah lain memiliki kebiasaan menggunakan posisi ini pada saat melahirkan. Dalam dunia obstetri modern, posisi jongkok jarang digunakan. Namun perkembangan terakhir menunjukkan adanya perubahan paradigma. Posisi jongkok kini menjadi salah satu pilihan utama pada saat melahirkan. Posisi jongkok dapat mengurangi rasa sakit ketika bersalin dan memudahkan proses bersalin. Proses ini juga mempersingkat waktu persalian kala II dan menurunkan abnormalitas.
Perdebatan tentang apakah posisi tegak (jongkok, berlutut, duduk, atau berdiri) atau posisi konvensional (dorsal recumbent, berbaring, lateral) lebih menguntungkan bagi outcome persalinan telah berlangsung dalam waktu lama
Evaluasi outcome persalinan pada beberapa penelitian yang membandingkan posisi tegak dengan posisi konvensional menunjukkan bahwa posisi tegak memiliki pengaruh yang positif pada beberapa indikator outcome persalinan, antara lain penurunan tingkat rupture perineum (Keine dan Tebbe, 1996; de Jong dkk., 1997; Bodner dkk., 2003), penurunan kejadian episiotomi (Keine dan Tebbe, 1996; de Jong dkk., 1997; Gupta dan Nikodem, 2000), penurunan rasa nyeri (Waldentrom dan Gottavall, 1991; de Jong dkk., 1997; Gupta dan Nikodem, 2000)
Kerugian posisi jongkok : (1) Posisi ibu memungkinkan untuk bergerak lebih leluasa sehingga sulit untuk memantau detak jantung janin dan ibu (2) Sulit bagi penolong untuk melihat apa yang terjadi di area vulva. Oleh karena itu, bidan harus belajar menyesuaikan berbagai posisi baru pada persalinan kala II.
 
Perasat Ritgen
Perasat Ritgen atau perasat Ritgen yang telah dimodifikasi adalah teknik yang digunakan klinisi untuk kelahiran kepala bayi. Langkah-langkah Perasat Ritgen adalah sebagai berikut :
  • ·Satu tangan tetap di oksiput untuk mengendalikan kepala bayi.
  • Tangan yang lain ditutup dengan handuk untuk melindungi dari kontaminasi.
  • Tangan yang dibungkus handuk kemudian memberi tekanan ke dalam pada bagian posterior rektum wanita sampai dagu bayi dapat ditemukan dan berada dalam genggaman jari-jari.
  • Tekanan kedepan dan keluar diberikan dibawah sisi dagu dan kepala dikendalikan diantara tangan ini dan tangan yang memberi tekanan pada oksiput.
Ketidaknyamanan timbul karena kenyataannya anus menjadi sangat distensi berupa penonjolan dinding rektum kedalam anus. Perasat Ritgen meningkatkan peregangan anus ini dan cenderung membuat anus dan dinding rektum menjadi sasaran tekanan langsung dan permukaan kasar handuk, hal ini juga dikaitkan dengan peningkatan insidensi laserasi periuretra.

Water Birth
Suku di kepulauan Pasifik, Selandia Baru Turki dan Afrika Selatan telah lama menggunakan metode bersalin di dalam air. Menurut Garland dan Jones bersalin di air mempunyai keuntungan kaitannya dengan efek “Hidrotermik” air sebagai konduktor panas, melemaskan otot dan meredakan nyeri, sehingga kulit perineum akan lebih lembut dan mudah meregang saat kepala bayi melaluinya.
Secara keseluruhan ibu yang melahirkan di air lebih mungkin mengalami perineum utuh atau robekan lebih ringan di bandingkan dengan robekan di darat.
Waterbirth menimbulkan banyak masalah yang berkaitan dengan otonomi wanita dengan bidan, seperti yang amati oleh Beech (1995), wanita di dalam kolam lebih dapat mengontrol persalinannya dan jauh lebih sulit bagi penolong persalinan untuk mengintervensi.

RUPTURA PERINEUM

Konsep Dasar Ruptura Perineum
Pengertian Ruptur Perineum Menurut para Ahlinya yaitu :
a.    Perlukaan yang terjadi baik unilateral maupun bilateral pada waktu persalian normal atau persalian buatan.
( Ilmu Kandungan 1999,hal 410)
b.    Ruptur perineum adalah robekan yang terjadi pada perineum hampir pada semua persalian pertama dan tidak jarang pada persalinan berikutnya. ( Ilmu Kebidanan 2006,hal 665) 
Penyebab Ruptur Perineum  ( liu,David T.Y. 2008,Hal: 136)
a.     Kala dua persalinan yang lama.
b.     Bayi besar
c.      Pada presentasi defleksi ( dahi, muka)
d.     Pada primigravida
e.     Pada letak sungsang
f.       Pimpinan persalinan yang salah

Usaha untuk menghindarkan ruptur perineum
       Usaha – usaha untuk menghindarkan robekan perineum tersebut adalah :
a.     Pada pemulaan persalinan sudah diberitahukan bahwa harus ada kerjasama antara penolong dan ibu, terutama waktu lahirnya kepala anak.
b.     Pengawasan kemajuaan kepala secara teliti, karena kemungkinan kepala anak dapat maju secara cepat  dan mengadakan defleksi secara tiba-tiba, penolong harus selalu siap dan jari tangan melindungi kepala anak dan perineum.
c.      Mengusahakan agar diameter yang melalui orifisium vagina adalah sub occipito fronto yang panjangnya 10 cm. usaha ini dilakukan dengan menahan fleksi kepala agar tidak terlalu cepat defleksi.
d.     Jari-jari tangan menahan perineum,telapak tangan didaerah anus empat jari dibagian kanan dan ibu jari dibagian kiri vulva dan agak menarik jaringan-jaringan keatas.
e.     Memberikan kesempatan agar perineum merenggang dengan jalan mengusahakan kepala tidak terlalu capat maju, caranya dengan menahan agar jangan terlalu kuat mengedan.
f.       Kepala lahir, hendaknya pada akhir kontraksi agar kekutan mengedan tidak terlalu kuat.
g.     Bila kepala telah mulai lahir, ibu diminta bernafas panjang, menghindarkan tenaga mengedan karena sinsiput, muka, dagu yang mempunyai ukuran panjang akan melalui perineum.
h.     Pengawasan terhadap lahirnya bahu terjadi setelah putaran dalam yang ditandai dengan adanya putaran paksi luar.

Tingkat ruptura perineum.(Chapman Vicky,2006)
a.     Ruptur  tingkat I
Robekan terjadi hanya pada selaput lendir vaginan  dengan atau tanpa mengenai kulit perineum.
b.     Ruptur tingkat II
Robekan mengenai kulit dan otot,biasa kecil atau ekstensif.
c.      Ruptur  tingkat III
Robekan mengenai perineum sampai dengan otot sfingter ani.
d.     Ruptur  tingkat IV
robekan mengenai perineum sampai dengan otot sfingter ani dan mukosa rectum.

Penanganan rupture perineum (Wiknjosastro,2007 hal 155)
Penanganan/perawatan khusus perineum bagi wanita setelah melahirkan anak, mengurangi rasa ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah infeksi, dan meningkatkan penyembuhan.
Prinsip-prinsip dasarnya adalah universal, sebagai berikut:
a.     Mencegah kontaminasi dari rectum.
b.     Menangani dengan lembut pada jaringan yang terkena trauma
c.      Membersihkan semua keluaran yang menjadi sumber bakteri dan bau.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, prosedur yang disarankan sebagai berikut :
1)     Bidan mengajarkan ibu untuk :
a)     Mencuci tangannya
b)     Buang pembalut yang telah penuh dengan gerakan kebawah mengarah ke rectum dan letakan pembalut tersebut kedalam kantong plastic.
c)      Berkemih dan BAB ke toilet
d)     Semprotkan keseluruh perineum dengan air.
e)     Keringkn perineum dengan menggunakan tissue dari depan kebelakang.
f)       Cuci kembali tangan
2)     Perawatan ruptur perineum
Persiapan alat dan bahan         :
a)     Satu pasang handscun
b)     Gaas steril
c)      Kom berisi betadien
d)     Kapas savlon
e)     Nierbekken
Cara kerja      :
a)     Vulva hygiene
1.     Membantu ibu untuk mengambil posisi lithotomic
2.     Cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir.
3.     Pakai sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi atau steril
4.     Dengan menggunakan 1 kapas savlon, oleskan dari atas kebawah pada labia minora (dimulai dari bagian yang terjauh dari petugas). Terakhir oleskan 1 kapas savlon dari bagian atas sampai kebawah vulva 1 kali olesan.
b)     Vagina toilet
1.     Gulungkan gaas betadhine pada jari tengah kemudian oles kedalam vagina dengan memutar 360 derajat.
2.     Kompres betadhine.

3)     Pengobatan
        Luka perineum yang terinfeksi seperti halnya luka bedah yang terinfeksi lainnya,harus diatasi dengan pemasangan dranais. Jahitan harus dilepas dan luka yang terinfeksi
dibuka. Kegagalan dalam tindakan ini bukan saja menyebabkan peluasan infeksi kedalam jaringan ikat paraservikal an para vaginal, tetapi juga mengakibatkan akhir anatomis yang jelek, salah satu terapi kombinasi antibiotic
bersprektum luas, sedangkan rasa nyeri diringankan dengan penggunaan preparat analgesic yang efektif dan bila terjadi retensi urine,pemasangan inwelling kateter harus dilakukan.
( wiknjosastro, 2006).